YAYASAN SALIB SUCI | Jawa Barat
 
 
 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

 
 
 
 
 

SMA SANTA MARIA 1
Jl. Bengawan No. 6
Bandung 40114
Telp. (022) 7205804

Sejak lama sekolah ini berupaya mengembangkan potensi dan keterampilan peserta didiknya melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan juga seni. Hal ini dilakukan dengan mendampingi peserta didik agar mampu menjadi pribadi dewasa, berkualitas, beriman, berwatak, dan berbudi pekerti luhur, serta dapat mengembangkan potensi-potensinya secara optimal. Juga Membekali dan mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kemampuan berbahasa Inggris dan pengetahuan serta keterampilan bidang Teknologi Informasi juga mendapat perhatian khusus.

SEJARAH

Sejarah berdirinya SMA Santa Maria 1 berawal ketika Pengurus Yayasan Salib Suci melalui Sekretaris Yayasan Bp. J. Mamusung memberi tugas kepada Bp. Wahidzar Moerad, Bp. Tri Hartono, dan Bp. Martinus Sinabariba bersama Bp. R. Saswidoyo yang saat itu menjabat sebagai Kepala SMA di Garut untuk merintis pendirian SMA di Bandung. Setelah melalui berbagai pertemuan dan persiapan akhirnya pada awal tahun 1967 dengan dukungan guru-guru SMP Santa Maria, SMA ini mulai berdiri.

Awal berdirinya SMA ini menggunakan ruang kelas di SMP Providentia (sekarang SMP Santa Ursula) pada siang hari dan sempat diberi nama SMA Pembangunan. Akhirnya SMA yang sangat diharapkan kehadirannya oleh para lulusan SMP Yayasan Salib Suci, khususnya SMP Santa Maria, diresmikan pada tanggal 25 April 1967 dengan nama SMA Santa Maria oleh Inspektur SMA Bp. Sulaiman Effendi yang didampingi Pengurus Yayasan Salib Suci, khususnya Bp. J. Mamusung, juga hadir Moeder Chrisostoma.

Sebagai Kepala Sekolah yang pertama dipercayakan kepada Bp. R. Saswidoyo yang menjabat sampai akhir tahun 1970. Selanjutnya jabatan Kepala Sekolah dipegang oleh Suster CMA v. Well, OSU yang menjabat hingga 1 September 1976.

Saat ini SMA Santa Maria 1 merupakan sekolah yang cukup diminati dan dikenal luas di masyarakat, bukan hanya di kota Bandung saja, terbukti dengan banyaknya peserta didik yang berasal dari daerah-daerah lain di Indonesia.

 
   
   
 

DivKom 2005